MY FAMILY (Father
And Mother I Love You)
(Urvia Oktarosa)
Tidak bisa ku
gambarkan secara detail seorang sosok Ibu di dalam hidupku. Beliau sangat
berarti sekali. Entah bagaimana hidupku jikalau tanpa Ibu.Engkau sosok
perempuan tanpa tanda jasa, tanpa gaji, tanpa bonus lembur, tanpa reward bahkan
engkau sosok yang tanpa henti untuk bekerja. Namun, terkadang tak dihargai.
Maafkan aku, Bu....
Dengan segenap
rasa rindu di dada ini ku coba untuk merangkai kata untukmu Ibu. Ibuku bernama
Sawiyah, beliau dilahirkan oleh seorang ibu yang hebat juga yang biasa kupanggil
dengan sebutan Makwo pada tanggal 23 September 1977. Ibu menikah dengan Abah
(A. Rohman) pada tanggal 15 Desember 1993.
Banyak hal yang
mereka lalui sampai pada tanggal 29 Oktober 1994, lahirlah aku yang diberi nama
Urvia Oktarosa. Entahlah arti namaku tersebut yang jelas kata pepatah apalah
arti sebuah nama dan ada juga yang mengatakan nama adalah do’a. Tetapi yang
terpenting adalah itu nama pemberian Buyutku dan selalu aku yakini pasti ada
makna baik yang tersirat di dalam nama ku itu.
Ibu,
bertahun-tahun engkau membesarkan ku. Dari dalam kandungan sampai usiaku
menginjak umur yang ke 20+ tahun, engkau masih diberikan
Tuhan umur yang panjang, dan aku selalu berdoa semoga Tuhan selalu memanjangkan
umur kalian –Ibu dan Abah- dengan berkah yang terkandung di dalamnya.
Ibu, pernah suatu
ketika-mungkin usiaku saat itu 9 tahun- berkata “Bu, aku tak ingin tumbuh besar
dan menjadi dewasa, aku tak mau beranjak dari dunia anak-anakku, Bu. Karena aku
tak mau melihat Ibu dan Abah menjadi tua. Aku ingin kalian muda seperti ini
terus. Aku tak mau berpisah dari kalian. Aku mau selalu bersama kalian, Bu.
Selamanya. Yah selamanya bersama Ibu dan Abah”. Akan tetapi Ibu hanya tersenyum
mendengar perkataanku seraya berkata,”semua ada masanya anakku, masa dimana
kalian harus tumbuh menjadi besar dan dewasa, kalian akan merasakan masa
menjadi seorang Ibu, seperti yang Ibu rasakan sekarang ini”.
Ibu, engkaulah
semangat bagi kami-adik-adikku-, tak pernah terbayang suatu saat nanti kita
tidak lagi bersama, makan bersama, tertawa bersama, nonton bareng-D’Terong,
Aladdin, Super Deal, dan cara favorit keluarga kita- tak pernah sedikitpun aku terpikirkan
seperti itu.Ibu, maafkanlah anakmu ini yang sering sekali menyakiti hatimu,
baik dengan kata-kataku, bahkan perbuatanku. Aku mohon maafkanlah, Bu.
Ibu, aku ingin
sekali engkau melihatku mengenakan pakaian wisuda dengan toga dikepala bersama
dengan Abah dan adik-adik-Rizqi novia Rosa, Salis Yuni Rosa dan Nadhiva Mei
Rosa- sekalian, aku ingin di hari wisudaku kita berkumpul sekeluarga secara
utuh. Aamiin.
Ibu, aku selalu
berdoa, semoga kelak kita disatukan kembali disana-di syurganya Allah Bu, satu
keluarga kita Bu..
Hal yang selalu
aku rindu ketika pulang kampung adalah ketika kita duduk bersama, saling
bercerita masa-masa belum ada listrik, di waktu itu banyak sekali kekonyolan
yang kami lakukan. Aku selalu merindukan gelak tawa ketika Ibu menceritakan
masa pertama berkenalan dengan Abah, cerita Ibu sewaktu kecil. Sampai-sampai
kami yang mendengar sakit perut akibat tertawa.
Bu, hatiku terasa
nyeri kala melihat air mata ibu mengalir. Mengenang almarhum ananda Assaify (Asep).
Maafkan aku yaa Bu, karena tidak bisa menjaga adik dengan baik, akibat
kelalaianku, kita semua kehilangan Hero yang sangat berarti. Semoga Tuhan
menempatkan ananda Asep di Syurga-Nya. Dan semoga di yaumil akhir kelak dialah
yang menjadi syafaat buat kita.Aamiin.
Dalam hatiku, kalian adalah
motivasi terbesarku untuk mencapai kesuksesan dan cita-citaku.You’re My Family
(Father and Mother I Love You)J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar